aku

aku

Senin, 16 November 2009

Cara Pembuatan Teh Secara Tradisional di RR China










Teh FengHuang dari China.
Kecamatan Feng Huang, kota ChaoZhou, propinsi Guang Dong, Negara China terkenal karena menghasilkan teh yang berkualitas super. Super disini maksudnya dengan harga bisa mencapai jutaan rupiah per kilogram nya. Klo dirata rata beserta kw 2 dan kw 3 nya maka masih mencapai harga rata2 sebesar 200 ribuan rupiah / kilogram nya. Ini bisa dilihat dari taraf hidup penduduk di FengHuang boleh dibilang hidup dalam tingkat daya beli yang lumayan tinggi.
Di sini saya akan menerangkan apa2 yang saya ketahui tentang Teh Fenghuang. Dinamai Fenghuang karena dihasilkan dari daerah yang bernama Feng Huang yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia adalah berarti nama jenis burung yaitu Burung Poenix.
Secara geographi daerahnya berbukit bukit mulai dari elevasi 330 meter dari permukaan laut sampai elevasi 1498 meter dari atas permukaan laut. Begitu juga dengan
pembagian harga teh bisa menurut ketinggian elevasi kebunnya. Elevasi 330 s/d 550 meter menghasilkan teh kualitas jelek(kw3). Elevasi 550 s/d 750 meter menghasilkan teh kualitas sedang (kw2). Elevasi 750 s/d 1200 meter menghasilkan teh kualitas baik atau super (kw 1).
Yang unik dan menentukan rasa dan kualitas teh ini adalah cara pengerjaannya. Mulai dari masa petik yaitu pada musim semi saja…berarti setahun Cuma panen sekali teh yang berkualitasnya. Kalau dipetik waktu cuaca tidak hujan akan lebih bagus dibanding pada waktu hujan. Dan dipetik pada waktu siang sampai sore akan menghasilkan teh lebih baik daripada kalau dipetik pada pagi hari.
Setelah dipetik teh tersebut dijemur. Pada waktu penjemuran mereka tunggu bukan karena takut dimakan ayam tapi teh itu ada limitnya waktu jemur. Jangan terlalu lama dan jangan sebentar. Dilihat dari kelayuannya. Kalau terlalu layu akan seperti terbakar dan menimbulkan rasa yang jauh tidak enak alias kualitasnyan akan jatuh hanya karena salah dalam penjemuran. Juga mereka takut waktu menjemur turun hujan. Teh yang di petik waktu turun hujan akan disimpan di ruang kamar selama 3 s/d 4 hari sampai hujan reda dan muncul matahari. Makanya kalau sering hujan pas muncul matahari mereka akan berebut jalan buat dijadikan tempat jemur teh.
Teh yang telah layu kemudian disimpan di nampah yang terbuat dari bamboo untuk diangin-angin di ruangan pabrik. Sambil tiap satu jam akan diacak acak pake tangan dengan pelan2 itu dilakukan berulang-ulang dari sore sampai tengah malam.
Pada waktu tengah malam dimulailah pengerjaan teh di pabrik masing-masing.
Di sini masing2 rumah punya pabrik teh sendiri semacam home industri. Dimulai dengan penyanggrayan (digoreng tampa minyak) sampai layu pisan tapi tidak hangus. Setelah selesai goreng dimasukan ke mesin pelintir daun. Untuk memilin daun2 teh. Daun-daun yang terpilin tersebut dimasukan kedalam loyang yang terbuat dari bamboo secara disebar merata tipis . Loyang dimasukan ke dalam oven dan mereka tahu kapan teh tersebut dianggap masak tapi tidak gosong. Untuk teh yang sudah masak setelah sebelumnya dianginkan sebentar dan gak panas dimasukan kedalam tempat berupa kaleng besar. Satu kaleng bisa menampung 25 kg.
Kemudian setelah panen berlalu dimulailah penyortiran teh. Biasa dikerjakan kaum wanita. Teh dikeluarkan dari kaleng di tempatkan dalam nampah kemudian dipilih teh jelek seperti gosong atau daun yang tua atau ada sampah dibuang. Semua dilakukan secara manual. Teh yang telah disortir kemudian dimasukan oven lagi bedanya oven yang ini bahan bakarnya pakai arang kayu….disamping mengeringkan juga membuat aroma yang lebih wangi lagi.
Tahap terakhir adalah pembungkusan dan pengepakan dengan pembungkus dan alat pengepakannya banyak terdapat di pasar local. Jadi mereka tidak usah memikirkan merknya lagi he he he…gak perlu izin ini izin itu. Gak perlu SIUP gak perlu HO. Yang jelas status mereka adalah petani. Meskipun mulai tanam, panen, pembuatan teh sampai pemasaran mereka lakukan sendiri. Kebanyakan pedagang datang ke tiap rumah untuk kemudian dibawa ke luar daerah. Petani cuma kena pajak bumi bangunan saja. Memang pemerintah China memanja para petani. Kapan di kita yah?
Untuk penjelasan lebih lanjut saya lampirkan foto dan tulisan ini akan di update pada waktu saya ada kesempatan. Untuk yang ingin lebih tahu dan mau menyumbang saran dan kritik boleh dibuat di tempat coment. Semoga bermanfaat.

1 komentar:

  1. malam mas, kalo boleh tau mesin2 apa saja yang dipergunakan dalam proses pembuatah teh?

    BalasHapus