aku

aku

Kamis, 28 Januari 2010

Dari My Gmail inbox 5

[Manager-Indonesia] Amati Hal besar, TELITI perkara KECIL




Rahmadsyah Mind-Therapist
to Manager-Indone.
show details Jan 19 (8 days ago)
Images are not displayed.
Display images below - Always display images from rahmadnlp@gmail.com

Assalamu’alaikum wr.wb
Sahabatku yang baik…
Semoga goresan kata-kata terangkai salam sejahtera dan kebahagiaan bagi kita. Tidak terasa, waktu begitu cepat bergerak. Januari telah melewati pertengahannya. Doa saya bagi kita semua. Agar sejarah yang telah kita isi, dipenuhi dengan Cinta dan Kasih Sayang Allah.

Dua hari yang lalu, saya mendapat ilmu yang sungguh bermanfaat bagi kehidupan saya. Kesempatan ini, izinkan saya sharingkan nasehat-nasehat bijak yang saya dapatkan dari Guru Spiritual saya...

Amatilah pada hal-hal besar dan Telitilah dalam perkara kecil. Begitulah pesan bijak beliau. Kemudian beliau melanjutkan : Perhatikan kembali olehmu.

Sejarah mencatat, Napoleon bonaparte. Kalah dalam perang karena musuhnya lebih lama (5 menit) perang darinya.
Kegagalan dan keberhasilan. Kemenangan dan kekalahan disebabkan hal kecil.
Dalam islam. Menyembelih hewan tanpa menyebutkan Asma Allah. Hewan tersebut haram dimakan, karena sama dengan bangkai.

Hanya karena keluar gas dari dubur, wudhu yang menyucikan telah terbatalkan.
Dikarenakan sms disusun dalam 2 kalimat. Perselisihan bahkan berujung cerai dalam rumah tangga.

Bukan banyak pasukan, bukan pula hebatnya peralatan perang menghancurkan dunia. Namun karena keputusan kepala negara, terucap dari mulutnya satu kata ”perang”.
Besarnya dampak bom bunuh diri, bukan dalam menyusun atau merangkai Bom terbuat dari C4 itu. Tapi sangat tergantung satu tombol ”On”...

Dulu saat engkau masih mengerjakan soal matematika yang diberikan oleh guru mu. Kesalahan terkadang bukan karena kamu salah cara. Tapi karena kekeliruan kecil meletakkan koma (,).

Angka nol itu mungkin tidak bernilai. Tapi didalam selembar cek, angka nol sangat mempengaruhi uang tunai yang kau cairkan.
Napoleon hill menuliskan dalam bukunya. Para penerbit banyak mendapatkan untung, hanya karena menggantikan judul dari sampul buku.

Pesawat ulang-alik Columbia milik NASA. Jatuh hanya karena buih kecil melayang diudara.
Pesawat komersial di jerman jatuh, karena tertabrak burung, yang sunguh kecil dibandingkan rangkaian pesawat.

Orang bijak, menganalogikan kenikmatan dunia, bagaikan tetesan air yang jatuh dari jari mu, setelah engkau mencelupkan kedalam laut.
Karena sepuntung rokok, menghanguskan perumahan satu RT.

Nyamuk yang begitu kecil Allah ciptakan. Telah membuka lapangan kerja bagi ribuan manusia.
Seorang wanita penzina. Ditempatkan disyurga karena memberi minum anjing yang kehausan.
Dalam penjualan, anggukan kecil menghasilkan deal besar.

Oleh karena itu, Perhatikan hal besar. Dan TELITILAH dalam perkara KECIL.

Bogor 19 januari 2010
Rahmadsyah,CM.NLP
Trainer & Mind-Therapist I 081511448147 I YM ; rahmad_aceh
www.rahmadsyahnlp.blogspot.com I www.facebook.com/rahmadsyah

Dari My Gmail inbox 4

[Manager-Indonesia] [NLP] Kekuatan Niat dan Kesempatan




Yant Subiyanto
to manager-indone.
show details Jan 20 (8 days ago)
Images are not displayed.
Display images below - Always display images from yant.subiyanto@gmail.com


Kekuatan Niat dan Kesempatan
Sumber http://roemahnlp.blogspot.com


Pada suatu kerajaan kecil yang makmur diadakan sebuah sayembara keberanian. Sayembara itu boleh diikuti oleh seluruh warga kerajaan dengan hak yang sama. Sebelumnya, raja belum pernah mengadakan sayembara seperti ini. Sehingga rakyat dari penjuru daerah wilayah kerajaan itu berbondong-bondong datang ingin menyaksikan jalannya sayembara. Bahkan dari kerajaan tetangga juga sebagian ikut datang.
Hadiah yang dijanjikan oleh Sang Raja juga tidak main-main. Hadiah sudah disediakan diantaranya puterinya sendiri, sehingga akan menjadi menantu dari seorang raja. Emas, perhiasan dan uang yang sangat banyak. Tanah garapan yang luas dan subur. Juga kedudukan atau jabata dalam istana. Raja hanya menyampaikan, bahwa pemenang nantinya tinggal mengajukan permintaan hadiahnya.
Sayembara tersebut hanya berenang menyeberang kolam, yang tidak begitu jauh. Namun dalam kolam tersebut sudah dipenuhi dengan buaya-buaya lapar. Jumlahnya cukup banyak dan rata-rata berukuran besar. Salah satu Nayaka Praja saat akan mengumumkan kembali hadiahnya, memperlihatkan betapa ganas buaya-buaya itu. Orang tersebut menceburkan seekor anak kambing. Kontan saja dalam hitungan detik, sudah tercabik tinggal sisa warna merah, darahbercampur air. Sedangkan kambing tersebut sudah berpindah ke perut para buaya.
Para penonton yang hadir semakin bergidik. Bahkan nyali mereka sudah pupus, setelah melihat kejadian itu. Bukan lagi berfikir hadiah yang dijanjikan raja, namun nyawa menjadi pertimbangan utama. Sampai beberapa waktu, tidak ada rakyat dari kerajaan tersebut yang mengajukan diri untuk mendaftar dan mulai menceburkan diri. Sementara para pemuda berdesakan di sekitar kolam tersebut.
Setelah tengah hari, sayembara belum juga ada peserta barang satu orangpun. Akhirnya Sang Raja bermaksud menutup sayembara tersebut dan hadiah tidak diberikan kepada siapapun. Lalu diperintahkan salah satu Nayaka Praja untuk mengumumkannya. Namun ada sesuatu yang terjadi… ya… seorang pemuda, dengan sangat cepat dan layaknya orang kesetanan, berenang menuju tepi dari tempat dia menceburkan diri.
Seluruh mata memandang dengan sangat takjub, tanpa berkedip. Mengawasi bagaimana dia akan dicabik-cabik oleh buaya itu. Bahkan banyak warga yang tidak berani menonton karena merasa ngeri. Dan belum berhenti decak kagum dari seluruh yang hadir, pemuda tersebut sudah sampai diseberang sana. Kemudian dipanggil oleh Sang Raja. Dalam beberapa saat dia tidak bisa berbicara, karena nafasnya terlihat tersengal-sengal. Seluruh warga berfikir dan membayangkan hadiah yang akan diterima oleh pemuda itu. Mereka semakin kagum dengan keberanian Sang Pemuda.
Sang Raja bertanya, “Hai Pemuda, kau sangat luar biasa dan perkasa, tidak ada satu orangpun kecuali engkau yang pemberani! Sekarang sebutkan permintaanmu dan akan aku berikan saat ini juga yang menjadi janjiku”.
Pemuda tadi menjawab, “Maaf paduka, hamba mohon maaf. Bukan lancang atas titah paduka, namun saya bukan mengharap hadiah itu.”
“Apa kurang besar hadianya?”, tanya Sang Raja.
“Bukan paduka, ampun paduka”, kata Pemuda tadi.
“Lalu apa?”, tanya Raja dengan sedikit keras.
“Maaf paduka, hamba sama sekali tidak bermaksud ikut dalam sayembara itu. Hamba sangat ketakutan, apalagi buaya itu ganas dan lapar. Saya tidak berani paduka. Saya hanya minta….eeehh.. maaf paduka”, jawab Pemuda itu terhenti sejenak.
“Apa? Jadi apa permintaanmu, hah”, Raja mulai gusar dan tidak sabar untuk mendengarnya.
“Begini paduka, saya hanya minta hadiah, agar diberitahu, siapa tadi yang mendorong saya, sehingga tercebut ke kolam buaya itu. Itu saja paduka. Sudah sangat cukup”, jawab pemuda, yang disambut dengan kekagetan seluruh orang yang ada disekitarnya.
Dari satu pandangan kita, pemuda tadi mestinya menjadi orang yang paling beruntung dalam kerajaan itu. Hadiah begitu besar dan tinggal bilang. Kalau kita, mungkin sudah menuliskan satu buku untuk daftar permintaan itu. Namun apa yang terjadi dengan pemuda tadi? Dia tidak memiliki mimpi sedikitpun untuk mendapatkan hadiah itu. Bahkan kesempatan sudah ada di depan mata, tetap saja hadiah tersebut tidak diambil. Bahkan dia meminta sesuatu yang tidak begitu berarti. Setidaknya jika dibanding dengan hadiah yang dijanjikan. Mimpi besar itu tidak tumbuh. Niat tidak ada. Sehingga dendam dan egoisme yang mendahului dibanding dengan langkah ambil kesempatan yang terbuka lebar.
Jadi berkaca, jangan-jangan kita ke Tuhan juga begitu. Ada hal besar yang dijanjikan dan tinggal ambil, kita malah mengajukan permintaan dan do’a yang sepele. Ah saya yakin tidak ada diantara kita yang begitu. Kalau ada, mulai saat ini dan seterusnya akan berubah.
Setidaknya cerita diatas, mengingatkan kita betapa niat dan kesempatan itu, bukan hal mudah didapat. Sehingga setiap hadir, kita akan sangat rugi jika kita tidak dengan bijak memanfaatkan. Semoga bisa menjadi inspirasi perenungan untuk kita, tetap ciptakan mimpi besar dan niat kuat menggunakan kesempatan untuk menggapainya.
Pelatihan dalam waktu dekat, “Magic Teaching with NLP”, 1 day funny workshop 23 Januari 2010, KUNO Coffee Shop, Resto & Gallery, HANYA 330Rb bagi pembaca tulisan ini. Reguler 660Rb. “Magic Communication with NLP”, 2 days funny workshop 6-7 Februari 2010, Solo Inn Hotel, HANYA 1.490Rb bagi pembaca tulisan ini. Reguler 1.900Rb. Spiritual Seminar NLP, “Ud’uunii Astajib Lakum”, 27 Feb 2010, KUNO Coffee Shop, Resto & Gallery, HANYA 150Rb. Silahkan direct call 0812 123 0050.

Yant Subiyanto, ST, CM-NLP
CUAT Bina Manajemen-Roemah NLP
Jl Srikandi No 3 Perum Griya Mukti – Jaten Kab. Karanganyar, Jawa Tengah Indonesia 57771
Ph. +62 271 822 040, +62 812 123 0050, +62 812 2610 0050
Email : info.cuat@gmail.com, yant.subiyanto@gmail.com YM : yant_cuat@yahoo.co.uk
Weblog http://roemahnlp.blogspot.com www.facebook.com/yant.subiyanto

Dari My Gmail inbox 3

[Manager-Indonesia] (Marketing Inspiration) Pijat Plus-Plus ala Yu Hadi




~ Made Teddy Artiana ~

show details Jan 25 (2 days ago)
Images are not displayed.
Display images below - Always display images from made.t.artiana@gmail.com


Pijat Plus-Plus ala Yu Hadi
Made Teddy Artiana, S. Kom
(company profile developer)


Tinggi badannya memang di bawah rata-rata orang Indonesia. Kulit sawo matang, rambut keriting ikal. Sekilas orang akan menyangka ia berasal dari suatu daerah di Indonesia bagian timur sana. Sampai orang mendengar logat bicaranya, anggapan itu serta merta berubah. Yu Hadi, demikian orang-orang memanggil namanya. Aku sendiri memanggilnya Mak Hadi karena memang usia Yu Hadi sudah diatas 50 tahun, adalah orang Jawa tulen.

Mungkin karena lahir dan dibesarkan dari keluarga tukang pijat di daerah Jogja sana, membuat Yu Hadi seolah tidak punya pilihan lain selain menjadi tukang pijat. Nenek dari neneknya adalah tukang pijat. Begitu juga ibu dari ibunya. Dan sekarang ia sendiri menyandang profesi yang sama. Tukang pijat. Seolah ilmu olah kanuragan yang diturunkan secara turun temurun, Yu Hadi juga mewarisi ‘ilmu’ pijat memijat tersebut. Meskipun tidak setenar ‘dukun kelamin’ Mak Erot, kepiawaian Yu Hadi untuk urusan melenturkan otot yang kaku pantas diacungi 2 buah jempol. Two tumbs up ! kira-kira begitu kata Wong Londo sono atau Mak Nyuuus…… istilah ala Mas Bondan.

Bagi mereka-mereka yang belum pernah keluar negeri, agaknya memang harus menelan ludah mendengar pengalaman Yu Hadi bertandang ke negeri tetangga. Keindahan negara-negara Eropa, Timur Tengah dan Asia Tenggara bisa Anda dengar dari bibirnya. Tetapi itu semua bukan berarti ia akan ngoceh membanggakan seberapa jauh ia telah melanglang buana, atau seberapa lebar customer nya tersebar ke ujung dunia. Yu Hadi tetap bersikap low profile. Tidak akan bercerita kalau tidak dipaksa. Saya pribadi pun mendengar semua ini, setelah melakukan sedikit paksaan, maklum penasaran. Oh yaaaa ???!! Ahhh masak ? Yang bener lu Mak..?!! begitu ungkapan-ungkapan kekaguman yang spontan saya keluarkan, jika mendengar cerita-cerita Yu Hadi. Ada sih ungkapan lain, seperti ‘geeebleek’ atau ‘oke deeeee Mak…’ sambil melirik ke arah istri yang sama-sama terbengong mendengar cerita Yu Hadi di luar negeri. Sementara Yu Hadi dengan kepolosannya, hanya tersenyum kecil melihat reaksi kami. “Udah biasa kok Mas, semua yang denger juga gitu..”, katanya menimpali. Nah lho..apa nggak bikin ngiri tuh !!!

Tetapi semuanya itu akan terasa masuk akal jika Anda meluangkan waktu untuk merasakan pijatan-pijatan Yu Hadi. Ehhhmmmmm…pijatannya teratur. Tidak loncat-loncat nggak karuan. Jari-jarinya yang kuat tapi lembut itu seolah menari-nari di sekitar pinggang kita yang telah dibaluri minyak. Memijit, menarik, berputar..bikin ketagihan. Dijamin membuat Anda merem melek bahkan lebih dari itu. Ngorok. Kenikmatan itu berlangsung 3 jam-an. Can you imagine that ?? Tidak jarang saya tertidur selama setengah jam, kemudian terbangun, dan akhirnya tertidur pulas lagi selama dipijat olehnya. Yu Hadi memang bukan jenis tukang pijat kejar setoran. Tukang pijat yang sering kali buru-buru, asal pencet kemudian terima duit dan ngabur meninggalkan pasiennya setengah kaku. No way lah ! Itu bukan style Yu Hadi.

Dalam hal penguasaan terhadapan sebuah ketrampilan, Yu Hadi tidak perlu di ragukan lagi. Tetapi tetap bukan itu yang membuatnya dicintai oleh para pelanggan. Ada sesuatu hal yang membedakan Yu Hadi dengan para koleganya. Usut punya usut, amat punya amat, ternyata sesuatu itu adalah…kemampuan untuk menempatkan diri diposisi pelanggan. Ini yang istimewa ! Bagi mereka yang berpenyakit dan ingin dipijat, Yu Hadi rela untuk berpuasa (baca tirakat) demi kesembuhan mereka. Untuk mereka yang ingin punya anak pun, ia rela untuk melakukan hal yang sama. Sama-sama prihatin Mas, begitu katanya menjelaskan. Diminta ? Tidak sama sekali. Dan ini bukan lips service belaka, ini totalitas seorang Yu Hadi dalam menjalani profesinya. Ia melibatkan seluruh perasaannya dan menempatkan diri pada posisi pelanggan.

Disinilah letak poin plus-plus nya. Mengherankan memang. Ketrampilan alamiah yang dimiliki oleh seorang tukang pijat turunan, yang jarang diajarkan pada sekolah-sekolah bisnis yang demikian menjamur. Dan kalaupun diajarkan, maka ‘hal itu’ diperlakukan sebagai trik atau tips alias ‘senjata pamungkas’ untuk memenuhi target penjualan suatu produk. Tidak salah memang. Hanya tidak manusiawi. Mungkin karena kita sudah sedemikian terlatih dan hebat untuk melihat kumpulan manusia-manusia ini, sekedar sebagai target pasar. Akhirnya profesi (baca : cara mencari uang) menjadi suatu rutinitas yang menajamkan otak tetapi membekukan hati. Semoga saja Yu Hadi-Yu Hadi yang lain masih belum punah di negara ini, sehingga kita, Anda dan saya, tidak disulap oleh profesi kita, menjadi mayat-mayat mati yang berkeliaran mengejar rupiah untuk bertahan hidup. Semoga. (***)


--

what a wonderfull world !
Made Teddy Artiana, S. Kom
photographer & penulis
http://semarbagongpetrukgareng.blogspot.com/
081317822720